Ilmu Tanpa Buku

Tatkala NAbi Ibrahim berkontemplasi dialam terbuka, Ia dapat banyak ilmu tentang Kehidupan dan ilmu tentang Ketuhanan. Hal yang sama juga dilakukan oleh semua Nabi dan Rasul Allah sebelum dan sesudah Beliau, begitu juga wali-wali Allah dari zaman dulu sampai dengan sekarang ini. Bahkan penemuan berbagai ilmu pengetahuan dari masa kemasa pun bermunculan ketika ada orang-orang yang dengan telaten bersedia melakukan kontemplasi baik dialam terbuka yang maha luas ini (makro kosmos) maupun dialam renik yang maha kecil (mikro kosmos).

Walau zaman mereka berbeda-beda dan jenis temuannya juga sangat beragam sekali, namun ada satu hal yang sama yang dilakukan oleh seluruh Nabi, Rasul, wali-wali Allah, dan para penemu ilmu pengetahuan itu. Ya… satu hal yang sama. Yaitu membaca ilmu tanpa buku. Iqraa.

Mari kita lihat sejenak jejak unik Nabi Ibrahim di dalam Al Qur’an dalam mengenal Allah. Dalam kontemplasi Beliau yang dalam dialam terbuka, Beliau sempat mempertuhankan bintang-bintang, lalu bulan, lalu matahari, sebelum akhirnya Beliau berhasil mendapatkan kepahaman yang tepat dan benar tentang Tuhan Yang Hakiki, yaitu Allah. Artinya, Al Qur’an sendiri telah memberikan sebuah contoh terlalu sederhana tentang betapa seorang Ibrahim pun pada mulanya adalah seorang yang tidak mengenal Allah dengan tepat dan benar. Akan tetapi saat Beliau dengan telaten duduk berkontemplasi dialam terbuka membaca ilmu tanpa buku, maka hasilnya menjadi sangat lain. Hasilnya adalah sebuah agama fitrah yang tetap abadi sampai sekarang.

Tradisi membaca ilmu tanpa buku itu berlanjut kepada Nabi Muhammad. Diawal-awal Beliau menerima Risalah kenabian, selama berbilang hari Beliau berkontemplasi di Gua Hira. Siang malam Beliau memandang langit tanpa atap, memandang bintang-bintang yang berdenyut, memandang senyuman bulan yang misterius , memandang gumpalan awan yang berarak kesana-kemari, memandang hamparan cakrawala luas tak bertepi. Dahsyat sekali sebenarnya. Sampai suatu saat, dipuncak kontemplasinya, Beliau didatangi oleh Malaikat Jibril yang diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Beliau cara belajar membaca ilmu tanpa buku.

“Iqraa ya Muhammad…, bacalah ya Muhammad..”, kata Jibril dengan lembut kepada Beliau.

“ Maa ana bi qarii…, saya nggak bisa baca”, jawab Beliau dengan terheran-heran.

Beliau heran dan bingung saat disuruh membaca oleh Malaikat Jibril. Karena ketika disuruh membaca itu, kok nggak ada bukunya. Mau membaca apa?. Sampai tiga kali Beliau disuruh oleh Jibril untuk membaca. Dan tiga kali pula Beliau menjawab bahwa Beliau benar-benar tidak bisa membaca tulisan apa-apa. Karena memang tidak ada buku yang tergelar dihadapan Beliau saat itu untuk Beliau baca. Tambahan lagi, entah benar entah tidak, menurut catatan sejarah Beliau tidak bisa tulis baca. Yang pasti saat itu Beliau benar-benar berada pada posisi Ummi. Sebuah posisi jiwa dan pikiran yang menjadi prasyarat mutlak untuk bisa membaca ulmu tanpa buku.

Kemudian Jibril memberitahu Nabi cara membaca ilmu tanpa buku:

BACALAH dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan…

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah…, Dst…

DERR…, dan selama beberapa hari berikutnya Beliau dialiri oleh getaran iman yang membuat tubuh Beliau seperti menggigil kedinginan. Begitulah yang terjadi di hari-hari berikutnya selama bertahun-tahun lamanya. Adakalanya setiap Beliau membaca ilmu tanpa buku itu, Beliau menggigil, kadangkala Beliau Bergetar, tempo-tempo Beliau seperti tidur mendengkur halus, atau bisa pula Beliau mengalami sebuah mimpi yang jelas dan terang benderang tentang sesuatu pengajaran. Dan hasilnya adalah sebuah kitab kehidupan yang sangat luar biasa, yaitu Al Qur’an, serta aktualisasi pengamalan Al Qur’an itu yang kemudian dibukukan oleh para sahabat Beliau, setelah Beliau wafat, berupa As Sunnah atau Al Hadist.

Disisi ilmu pengatahuan alam, penemu listrik, Thomas Alfa Edison, juga tidak pakai buku ketika dia berhasil menemukan fenomena kelistrikan. Dia hanya bermodalkan mainan layangan ditengah lapangan. Dia menemukan realitas kelistrikan karena ada petir. Benang layangannya menyala saat ada petir, sehingga dia pun berkata aha…, eureka…. Berikutnya dia melakukan ratusan kali pengamatan tentang fenomena kelistrikan itu dengan menggunakan benang karbon. Pada awalnya dia malah dianggap sebagai tukang sihir, karena dia melakukan pengamatannya itu didepan umum. Walaupun dilecehkan, dihina dan sering gagal dalam percobaannya, namun dia tetap dengan penuh gairah melakukan pengamatan dan percobaannya. Sampai pada akhirnya, hasil kontemplasi Thomas Alfa Edison itu telah menjadi sebuah karya yang monumental dan abadi. Lampu listrik…

Sedangkan kita, terutama mayoritas umat islam di berbagai penjuru dunia, atau bangsa Indonesia ini khususnya, tidak begitu. Kita lebih banyak mengaji, membaca, dan menghafal BUKU-BUKU. Kita tidak lagi suka melakukan kontemplasi di alam terbuka membaca kitab kehidupan yang tergelar luas dihadapan kita. Kita lebih senang membaca dan mendengarkan ilmu dari buku dan buku. Selalu saja buku dan buku. Dan hasilnya, kita telah menjadi orang-orang yang berilmu tapi juga sekaligus berpikiran sempit. Sesempit ilmu yang hanya sebatas isi lembaran-lembaran buku, yang tentu saja membuat kita terseok-seok berhadapan dengan kompleksitas kekinian kehidupan yang menyata dan mengada.

Contohnya tidak usah yang rumit-rumit. Disekolah-sekolah, dari yang tingkat dasar sampai tingkat tinggi, memang ada ilmu elektronika dibahas, dihafal, diujikan dengan sangat detail. Tapi semua itu adalah ilmu yang sudah ada dan malah sudah basi dan tidak terpakai lagi. Akibatnya kita tidak pernah mendapatkan hal-hal yang baru dalam ilmu elektronika itu. Tahu-tahu kita terkejut dengan fenomena NKIA, BB, APPL, SAMS…, dan sebagainya. Akhirnya kitapun tumbuh menjadi bangsa yang suka kagetan dan suka mengekor saja kepada hasil berbagai temuan orang lain dari berbagai penjuru dunia.

Begitu juga dengan cara kita beragama. Gara-gara adanya ribuan buku agama yang mengupas ayat al Qur’an dan Al Hadist dengan sangat dalam oleh berbagai ilmuan agama islam, maka buku-buku itu telah menghijab perjalanan rohani kita hanya sebatas kalimat-kalimat didalam buku-buku itu. Padahal fungsi buku-buku itu sebenarnya hanyalah sebatas ilmu yang akan menunjukkan kepada kita arah yang harus kita lalui. Buku-buku itu bukan untuk dicari berkahnya, bukan untuk dibahas dan dihafalkan bab per bab. Tidak. Jadi untuk memahami agama islam yang sangat sederhana dan mudah ini kita tidak perlu harus belajar berlama-lama sampai s1-s2-s3-s4, profofesor, dan sebagainya. Terlalu lama. Soalnya boleh jadi umur kita ini besok sudah habis. Sementara kita belum mengamalkan ilmu-ilmu yang kita hafalkan itu sampai mendapatkan hasilnya sampai benar-benar MENJADI apa yang diinginkan oleh ilmu itu sendiri. Bukan hanya sekedar mengamalkan lalu kita berutopia dialam mimpi.

Jadi, artikel singkat ini hanyalah untuk memberikan sedikit ruang berfikir yang tidak biasa bagi siapa yang mau. Yaitu agar kita mulai mau membaca ilmu tanpa buku. Agar kita sering-sering melakukan kontemplasi dialam terbuka. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dulu dengan jalan mengamati patung-patung, bulan, matahari, bintang-bintang, sehingga pada akhirnya Beliau mendapatkan ilmu tentang Allah yang sebenarnya. Nabi Muhammad menemukan ayat-ayat Al Qur’an ketika beliau berkontemplasi di Gua Hira. Malah ketika Beliau melanjutkan kontemplasi Beliau dialam terbuka, ditengah-tengah masyarakat, ditengah-tengah riuh rendahnya kehidupan, Beliaupun bisa menemukan benang merah yang menghubungkan alam kehendak, alam penciptaan, alam aktifitas, serta alam reward dan punishment mulai dari awal yang tiada awal sampai ke akhir yang tiada akhir. Rangkaian utuh pengalaman Nabi Muhammad dan para sahabat Beliau itu kemudian menjelma menjadi ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist.

Jejak-jejak Al Qur’an dan Al Hadist ini menunjukkan kepada kita bahwa kalau kita ingin Belajar tentang Ilmu kehidupan, maka belajarlah dengan cara tanpa memakai buku pula. Belajarlah dengan cara berkontemplasi, Iqraa dialam terbuka. Tinggalkanlah ruangan kelas sesering mungkin. Karena dinding-dinding ruang kelas itu akan menghalangi keluasan pikiran dan perasaan kita. Dinding-dinding masjid sekalipun akan bisa menghalangi kita dari membaca kitab kehidupan yang sedang tergelar didepan mata dan telinga kita.

Begitu juga dengan lembaran-lembaran buku, tutuplah…, setelah kita baca sejenak dan kita tahu maksud yang terkandung didalam buku tersebut. Kemudian kita lakukan prakteknya sampai kita temukan sendiri buku kehidupan kita dikekinian zaman. Lembaran buku-buku itu cukup hanya kita pakai sebagai landasan awal tempat berpijak kita saja dalam melangkah. Just do it. Jadi tidak perlu kita hapalkan. Ia cukup kita pahami saja.

Selamat mencoba…

Salam…

Deka

TUNAIKAN AMANAH

السَّلاَمُ ع َلَيْكُمْ

Firman Allah SWT.:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً. لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 72-73).

Amanah ini sebenarnya telah ditawarkan kepada alam semesta, langit, bumi dan gunung. Namun mereka semua takut memang-gulnya dan enggan menerimanya karena takut dengan azab Allah. Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada Adam dan beliau menerimanya.
Ibnu Abbas berkata dalam menjelaskan pengertian amanah dalam ayat ini:
“Amanah adalah kewajiban-kewajiban, Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, apabila mereka menunaikannya, maka mereka mendapatkan pahala dan bila menyia-nyiakannya, maka mereka diberi siksaan, lalu mereka menolaknya, bukan karena tidak taat kepada Allah namun karena mengagungkan agama Allah.

Siapa yang memiliki kesempurnaan sifat amanah, maka ia telah menyempurnakan agamanya, dan siapa yang tidak memilikinya, maka ia telah membuang agamanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar dan juga ath-Thabrani dari hadits Anas bin Malik dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, beliau berkata, RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ.
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, bahwa semakin berkurang sifat amanah, maka semakin berkurang juga cabang keimanan, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Hudzaifah, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ الْأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِي جَذْرِ قُلُوْبِ الرِّجَالِ، ثُمَّ نَزَلَ الْقُرْآنُ فَعَلِمُوْا مِنَ الْقُرْآنِ وَعَلِمُوْا مِنَ السُّنَّةِ، ثُمَّ حَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِ الْأَمَانَةِ، قَالَ: يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الْأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْوَكْتِ، ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الْأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْمَجْلِ، كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَفِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا وَلَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ، ثُمَّ أَخَذَ حَصًى فَدَحْرَجَهُ عَلَى رِجْلِهِ فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ، لَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ: إِنَّ فِي بَنِيْ فُلَانٍ رَجُلًا أَمِيْنًا، حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ، مَا أَجْلَدَهُ، مَا أَظْرَفَهُ، مَا أَعْقَلَهُ، وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.
“Sesungguhnya amanah telah turun ke tengah hati-hati orang-orang, kemudian turunlah al-Qur`an, sehingga mereka mengetahui al-Qur`an dan Sunnah. Kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang hilangnya sikap amanah: seseorang tidur sebentar lalu amanah dicabut dari hatinya sehingga tersisa bekasnya seperti bercak kecil, kemudian tidur kembali lalu dicabut amanah dari hatinya sehingga tersisa seperti lepuhan luka, seperti bara api yang kamu tempelkan ke kakimu, lalu kaki tersebut terluka bakar dan kamu lihat ia melepuh dan tidak ada apa-apanya. Kemudian beliau mengambil kerikil dan ditempelkan ke kaki beliau. Lalu orang-orang berbai’at namun hampir tak seorang pun menunaikan amanah hingga diberitakan bahwa pada bani Fulan terdapat seorang yang amanah, hingga dikatakan kepada orang itu, ‘Alangkah sabarnya, alangkah hebatnya dan alangkah berakalnya!’ Padahal di hatinya tidak ada sebiji sawi pun dari iman.”

Allah mencabut sifat amanah dari hati seseorang dengan sebab meremehkan kewajiban agama dan khianat terhadap hak-hak orang lain. Sebagaimana Allah SWT. berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَد تَّعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Ash-Shaf: 5).

Jelaslah bahwa tauhid dan memberantas kesyirikan adalah amanah, amar makruf nahi mungkar adalah amanah, harta adalah amanah yang tidak boleh dipakai untuk kemaksiatan, mata kita adalah amanah yang harus dijaga dari memandang yang haram, dan seluruh anggota tubuh kita adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara dari keburukan dan kemaksiatan. 

SABAR dan SHALAT

Shalat adalah kewajiban sekaligus kebutuhan setiap Muslim. Karena shalat merupakan waktu terdekat hubungan antara seorang hamba dan Penciptanya. Shalat pula merupakan benteng dalam menangkal perbuatan keji dan mungkar.
Pentingnya shalat terkadang tidak terlalu kita sadari. Sering kita saksikan orang melakukan shalat dengan tergesa-gesa. Tak jarang pula rukun-rukun dan sunah dalam shalat dilanggarnya. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Allah SWT, yakni kita harus mengerjakan shalat dengan khusyuk dan sabar.
”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132).

Kesabaran dalam mendirikan shalat merupakan keharusan jika menginginkan shalat memiliki makna dalam kehidupan kita. Sabar dalam mendirikan shalat berarti kita telah berusaha meningkatkan kualitas shalat serta menyempurnakan rukun dan sunahnya. Sabar dalam mendirikan shalat hanya akan terwujud jika kita berusaha khusyuk mengerjakannya. Allah SWT telah menegaskan bahwa shalat itu merupakan ibadah yang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah: 45).

Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberi kunci untuk dapat bersabar dalam shalat dengan mendirikan shalat tepat pada waktunya.
”Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa’: 103).

Terkait dengan shalat yang didirkan dengan benar atau tidak, Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila seseorang membaikkan shalatnya, menyempurnakan rukuk dan sujudnya, berkatalah sang shalat, ‘Semoga Allah memelihara engkau sebagaimana engkau memelihara aku.’ Maka, diangkatlah shalatnya itu ke hadirat Allah.”

”Dan, apabila seseorang memburukkan shalatnya dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, berkatalah sang shalat, ‘Semoga Allah menyia-nyiakan engkau sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku.’ Maka, dibungkuslah shalatnya itu sebagaimana membungkus kain yang buruk. Lalu, dipukulkanlah ke mukanya.”

Sejatinya apa yang disampaikan Allah SWT dan Rasul-Nya tentang pentingnya shalat yang didirikan dengan sabar dan khusyuk, menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas shalat kita. Mari kita niatkan untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas shalat dengan sabar dan khusyuk,

Dari :Bambang sugeng

Teori Fisika Hawking Tentang Isra’ Mi’raj

Salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah diperjalankannya beliau oleh Allah SWT melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Banyak yang coba mengungkapkan peristiwa tersebut secara ilmiah, salah satunya melalui Teori Fisika paling mutahir, yang dikemukakan oleh Dr. Stephen Hawking.

Stephen Hawking

Teori Lubang Cacing

Raksasa di dunia ilmu fisika yang pertama adalah Isaac Newton (1642-1727) dengan bukunya : Philosophia Naturalis Principia Mathematica, menerangkan tentang konsep Gaya dalam Hukum Gravitasi dan Hukum Gerak.

Kemudian dilanjutkan oleh Albert Einstein (1879-1955) dengan Teori Relativitasnya yang terbagi atas Relativitas Khusus (1905) dan Relativitas Umum (1907).

Dan yang terakhir adalah Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942), beliau dikenal sebagai ahli fisika teoritis.

Dr. Stephen Hawking dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama sekali karena teori-teorinya mengenai tiori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan topnya di mana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.

Tulisan-tulisannya ini termasuk novel ilmiah ringan A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah.

Berdasarkan teori Roger Penrose :
“Bintang yang telah kehabisan bahan bakarnya akan runtuh akibat gravitasinya sendiri dan menjadi sebuah titik kecil dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, sehingga menjadi sebuah singularitas di pusat lubang hitam (black hole).“

Dengan cara membalik prosesnya, maka diperoleh teori berikut :

Lebih dari 15 milyar tahun yang lalu, penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah singularitas dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, meledak dan mengembang. Peristiwa ini disebut Dentuman Besar (Big Bang), dan sampai sekarang alam semesta ini masih terus mengembang hingga mencapai radius maksimum sebelum akhirnya mengalami Keruntuhan Besar (kiamat) menuju singularitas yang kacau dan tak teratur.

Dalam kondisi singularitas awal jagat raya, Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga akan menghasilkan besaran yang tidak dapat diramalkan.

Menurut Hawking bila kita tidak bisa menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan “jagat raya”, padahal tahap-tahap pengembangan jagat raya dimulai dari situ, maka teori relativitas itu juga tidak bisa dipakai pada semua tahapnya.

Di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.

Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan.

Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.

Ilustrasi Lubang Cacing

Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking “telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.

Jadi dalam pandangan Hawking takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak diciptakannya.

Dalam bahasa ilmu kalam :
“Tinta takdir yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh air yang ada di tujuh samudera di bumi telah habis dituliskan di Lauhul Mahfudz pada awal penciptaan, tidak tersisa lagi (tinta) untuk menuliskan perubahannya barang setetes.”

Menurut Dr. H.M. Nasim Fauzi, sesuai dengan teori Stephen Hawking, manusia dengan waktu nyatanya tidak bisa menjangkau masa depan (dan masa silam).

Tetapi bila manusia dengan kekuasaan Allah, bisa memasuki waktu maya (waktu Allah) maka manusia melalui “lubang cacing” bisa pergi ke masa depan yaitu masa kiamat dan sesudahnya, bisa melihat masa kebangkitan, neraka dan shiroth serta bisa melihat surga kemudian kembali ke masa kini, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW, sewaktu menjalani Isra’ dan Mi’raj.

Dari sinilah Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT ke langit.

Sebagaimana firman Allah :
Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal . . .
(QS. An Najm / 53:13-15)

Nampaknya dalam mengungkap Perjalanan Isra, Teori Hawking dengan “Lubang Cacing”-nya, sama logisnya dengan Teori Menerobos Garis Tengah Jagat Raya namun meskipun begitu, teori Hawking, tidak semuanya bisa kita terima dengan mentah-mentah.

Seandainya benar, Rasulullah diperjalankan Allah melalui “lubang cacing” semesta, seperti yang diutarakan oleh Dr. H.M. Nasim Fauzi, harus diingat bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan lintas alam, yakni menuju ke tempat yang kelak dipersiapkan bagi umat manusia, di masa mendatang (surga).

Rasulullah dari masa ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang).

Dan dengan mengambil teladan peristiwa Isra, kita bisa ambil kesimpulan :
1. Manusia dengan kekuasaan Allah, dapat melakukan perjalanan lintas alam, untuk kemudian kembali kepada waktu normal.

2. Manusia yang melakukan perjalanan ke masa depan, namun masih pada ruang dimensi alam yang sama, tidak akan kembali kepada masa silam (mungkin sebagaimana terjadi pada Para Pemuda Kahfi).

3. Manusia sekarang, ada kemungkinan dikunjungi makhluk masa silam, tetapi mustahil bisa dikunjungi oleh makhluk masa depan. Hal ini semakin mempertegas, semua kejadian di masa depan, hanya dipengaruhi oleh kejadian di masa sebelumnya.

WaLLahu a’lamu bisshawab…

Sumber :
kanzunqalam.wordpress.com

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

TAKJUB

سْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Tubuh kita adalah “Mesin” yang Menakjubkan, Subhanallah !!! Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Dia ucapkan: “Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah” dan ucapan yang sejenisnya. Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan. ::::.. Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata? Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang yang memuji Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan. Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu: pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua: membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga: meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah). Ketika musuh Allah, Iblis, mengetahui betapa tingginya kedudukan syukur, dan bahwasanya syukur itu termasuk dari seagung-agung kedudukan dan yang paling tingginya, maka dia (Iblis) menjadikan tujuan (utamanya) adalah berusaha memutuskan manusia dari syukur, lalu dia berkata: “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).” (Al-A’raaf:17) ::::.. Allah telah mensifati orang-orang yang bersyukur bahwasanya mereka adalah orang-orang yang sedikit diantara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (berterima kasih).” (Saba`:13) Dan telah tetap di dalam Ash-Shahiihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwasanya beliau berdiri shalat malam sampai kedua telapak kakinya bengkak-bengkak, maka dikatakan kepada beliau: Mengapa engkau melakukan ini dalam keadaan Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu yang dahulu maupun yang akan datang? Maka beliau menjawab: “Apakah aku tidak boleh untuk menjadi orang yang bersyukur?” Syukur itu pengikat kenikmatan dan sebab bertambahnya nikmat, sebagaimana diucapkan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz: “Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan syukur kepada-Nya.” ::::.. Saat ini, manusia selalu memimpikan untuk memiliki kekuatan luar biasa. tetapi sedikit yang kita tahu bahwa tubuh kita sendiri adalah sebuah mesin yang luar biasa dan dapat melakukan pekerjaan yang menakjubkan.. ::::.. OTAK Anda yang terdiri 80% air, memiliki 100.000.000.000 sel saraf yang mengirimkan sinyal dengan kecepatan 274 km per jam. menciptakan lebih banyak impuls listrik dari pada satu hari dari semua telepon di seluruh dunia yang di kumpulkan. Kekuatan pemrosesan otak Anda seperti komputer pentium 168.000mhz, yang merupakan perbandingan kasar karena otak Anda tidak digunakan secara kompleks. 20% dari oksigen yang Anda hirup masuk ke otak. ::::.. MATA mata Anda bisa membedakan 500 tingkatan warna abu-abu, dan ukuran mereka selalu sama sejak lahir, sebuahmata manusia berkedip rata-rata 6.205.000 per tahun (berkedip benar-benar membersihkan bola mata kita) cara mata kita melihat, di tiru oleh pembuat kamera. ::::.. HIDUNG hidung anda membau “stereo” aroma sinyal dari setiap perjalanan nosetril ke berbagai bagian otak yang membantu Anda untuk menentukan dari mana bau berasal. ::::.. MULUT manusia rata-rata memproduksi 28.000 liter air liur dalam seumur hidup, yang cukup untuk mengisi 2 kolam renang. klo ukuran 1 kolam renang internasional FINA Length :50 m (164 ft) Width :25 m (82 ft) Depth :2.0 m (6 ft 7 in) minimum Volume :2,500 m3 ::::.. JANTUNG jantung Anda berdetak 40.000.000 kali setahun memompa 48.000.000 galon darah dalam waktu hidup rata-rata, namun hanya berbobot kurang dari 0,45 kg. jantung memiliki kekuatan yang cukup untuk menyemprotkan darah sejauh sembilan meter. dalam satu jam, jantung Anda bekerja cukup keras untuk menghasilkan energi setara untuk meningkatkan hampir satu ton bobot 0,9 meter dari tanah. ::::.. KULIT dalam 2,5 sentimeter persegi kulit di sana terletak 3,6 meter dari serat saraf, 1.300 sel-sel saraf, 100 kelenjar keringat, tiga juta sel, dan 2,7 meter pembuluh darah. Kulit adalah organ terbesar dalam manusia dengan permukaan adalah sebesar 2,25 meter persegi. ::::.. TULANG Adamantium adalah salah satu logam terkuat di dunia, tetapi substansi yang paling kuat dalam tubuh kita adalah email dan tulang paha kita lebih kuat dari beton dan ini memiliki ruang hampa di dalam ny! Sebuah balok tulang ukuran kotak dapat menahan bobot sembilan ton . rata-rata orang dewasa memiliki 206 tulang dalam tubuh mereka. ::::.. ORGAN DALAM tubuh Anda adalah toko farmasi yang mengandung belerang yg cukup untuk membunuh semua kutu pada anjing rata-rata, karbon yg cukup membuat 900 pensil, pottassium yg cukup untuk membuat meriam api mainan, lemak untuk membuat tujuh batang sabun, phosporus untuk membuat 2,200 match heads, besi yang cukup untuk menciptakan paku tiga inci dan air untuk mengisi tangki 40 liter. asam lambung pencernaan yg cukup kuat untuk melarutkan seng. ::::.. DARAH seberapa jauh kau bisa berjalan?darah juga memiliki perjalanan jarak yang sangat panjang, sekitar 96.000 km dalam waktu hidup rata-rata, yang cukup untuk pergi ke seluruh dunia dua kali.. ::::.. TIDUR bahkan ketika Anda sedang tidur Anda melakukan hal-hal yang menakjubkan. satu dari delapan orang mendengkur dan satu dari sepuluh menggesekan gigi nya. ::::.. BERSIN bersin pun membersih kan virus” yg mengganggu tubuh anda.. bahkan d saat anda bersin semua organ tubuh anda berhenti bekerja, termasuk JANTUNG **** Berkata seseorang kepada Abu Hazim: “Bagaimana bentuk syukurnya kedua mata ya Abu Hazim?” Maka dia menjawab: “Jika engkau melihat kebaikan, engkau mengumumkannya (memberitahukan kepada yang lainnya) dan sebaliknya jika engkau melihat kejelekan, engkau menyembunyikannya. ” Laki-laki tadi bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua telinga?” Beliau menjawab: “Jika engkau mendengar kebaikan maka engkau menjaganya dan jika engkau mendengar kejelekan, engkau menolaknya. ” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua tangan?” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengambil apa-apa yang bukan milik keduanya dan janganlah engkau tahan hak untuk Allah apa yang ada pada keduanya. ” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya perut?” Beliau menjawab: “Jadikanlah makanan dibawahnya dan ilmu di atasnya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kemaluan? ” Beliau menjawab dengan membacakan ayat: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminuun:5-7) Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua kaki?” Beliau menjawab: “Jika engkau mengetahui suatu mayat yang engkau iri kepadanya (karena ketika hidupnya melakukan ketaatan kepada Allah), maka pergunakan keduanya sebagaimana dia amalkan. Jika engkau tidak bersyukur dengan seluruh anggota badanmu, maka permisalannya adalah seperti seseorang yang mempunyai pakaian lalu dia mengambil ujungnya dan tidak memakainya, maka pakaian tersebut tidak memberikan manfaat kepadanya untuk menghindari panas, dingin, salju dan hujan. Dan sebagian ‘ulama telah menulis surat kepada salah seorang saudaranya: “Ammaa ba’d, sungguh kami telah berada di pagi hari dengan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak dapat dihitung bersamaan banyaknya maksiat yang telah kami lakukan, maka kami tidak tahu mana diantara keduanya yang kami bisa bersyukur, apakah keindahan (yaitu kebaikan-kebaikan) yang telah dimudahkan bagi kita ataukah kejelekan-kejekan yang telah ditutupi?! Subhaanallah, seorang muslim tidak boleh sekejap pun untuk melupakan syukur kepada Allah. Mengapa? Tidakkah kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dalam keadaan kita sering terjatuh kepada kemaksiatan akan tetapi Allah tutupi aib-aib kita. Untuk itu bersegeralah kembali dan taubat kepada-Nya serta kita minta kepada-Nya agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang pandai bersyukur. Wallaahul Muwaffiq. *** . 

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry