DADA.rumah Beruangan Banyak

Ass. Wr. Wb,Pak Yusdeka, mohon ma’af
sebelumnya apabila merepotkan.Apabila
berkenan, kami mohon pencerahan dari Bapak
untuk ayat-ayat dibawah ini: Hai jiwa yang
tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke
dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah
ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30) Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-
anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): “Bukankah Aku ini
Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan:
“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-
orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
(QS. 7:172)
Pertanyaannya:
Mengapa dalam ayat-ayat tsb diatas Allah SWT
menyebut kita sebagai Nafs?. Bukan Ruh?.
Terima kasih sebelumnya atas kesediaan Pak
Yusdeka.
Wass. Wr. Wb,
Muhammad Sabari
Ass wr wb.
Yth Pak Sabari, mudah-mudahan Bapak tetap
dalam limpahan rahmat dari ALLAH SWT.
Mungkin untuk menjawab pertanyaan bapak
tidak ada salahnya kalau Bapak mencoba lihat
kembali artikel-artikel saya yang lain tentang
pengertian NAFS ini. Betapa kita sudah sangat
bingung dengan segala istilah yang berkenaan
dengan NAFS ini. Misalnya saja kemudian muncul
istilah-istilah lainnya seperti JIWA (JIVA dalam
bahasa Sanksekerta). Ada SUKMA, BATIN,
ROHANI. Ada pula HATI (QALBU) yang bisa keras
membatu dan bisa pula lembut. Ada pula istilah
NAFSUL AMMARAH, LAWWAMAH, SUFIAH,
MUTHMAINNAH, dan sebagainya. Njlimet
sekali…Akan tetapi untuk sekedar refreshing saja
pertanyaan diatas akan saya coba jawab dengan
lebih sederhana lagi, yaitu lebih dekat kepada
pengalaman kita sehari-hari saja. Kita selama ini
ragu-ragu untuk mengeksplorasi diri dan
kehidupan kita sendiri sebagai bahan
pembelajaran bagi kita. Kita lari menjauh dan
semakin menjauh menuju diri dan pengalaman
hidup orang lain yang boleh jadi memang telah
lebih baik dari kita. Sehingga kita lalu terheran-
heran saja melihat begitu jauh berbedanya diri
dan kehidupan kita ini dengan orang lain yang
kita rujuk tersebut tersebut. Lalu yang muncul
kemudian adalah sikap keragu-raguan terhadap
diri kita sendiri. Kalau tidak begitu, maka yang
akan muncul hanyalah sikap eforia dan utopia
kita dalam menjalankan kebaikan. Dan haslnya
lebih banyak capeknya dari pada enaknya.
BEGINI…Sebaiknya kita tidak perlu terlalu
terpaku dengan sebuah jawaban secara tertulis
seperti yang sering kita lakukan selama ini. Saat
berbicara tentang NAFS, maka logika berfikir
kita akan dibawa kemana-mana sesuai dengan
apa yang sampai kedalam otak kita, sehingga kita
jadi bingung sendiri akhirnya.Sebenarnya kita
tidak usah bingung dengan ayat 27-30 surat Al
Fajr tersebut. Cobalah perhatikan ayat tersebut.
Allah berbicara tentang NAFS (diri manusia),
bukan RUH. Karena RUH adalah substansi yang
sudah patuh kepada Allah, sudah ikut kehendak
Allah, yang berasal dari Allah. Sedangkan NAFS
adalah substansi yang sangat labil, yang
kadangkala lebih buruk dan jahat dari binatang
ternak.. Nggak percaya…, cobalah perhatikan
DIRI KITA dalam suasana yang sedikit hening dan
kemudian lakukanlah eksplorasi kesadaran
sebagai berikut:
Saat kepala kita ada masalah, misalnya
berdenyut-denyut dan rasanya tidak karuan,
maka kita katakan bahwa “kepalaku sedang
sakit”, dan kita tahu persis bagian mana dari
kepala kita itu yang sakit tanpa salah sedikitpun.
Bisa saja sakit itu dibagian kepala kiri atau
kanan, atau kesemuanya.Akan tetapi dengan
sedikit pengalihan objek kesadaran saja,
misalnya kita datang ke daerah pantai, dengan
cuaca yang sangat indah, lalu kita secara
perlahan-lahan mengarahkan kesadaran kita
kepada keindahan dan keluasan pantai tersebut,
maka dengan sangat mengejutkan sakit kepala
kita akan nyaris tidak terasa lagi. Kemudian,
begitu kita kembali mengarahkan kesadaran kita
kepada hal-hal yang disekitar kita, maka sakit
kepala itu kembali seperti mendera kita.Nah…,
yang sakit itu apakah kepala saya atau sayanya
sendiri yang sakit….?. Yang terjadi sebenarnya
adalah bahwa saya bisa merasakan kepala
tersebut sakit karena memang kesadaran saya
saat itu sedang berada di kepala saya. Akan tetapi
saat kesadaran saya tidak berada dikepala saya,
misalnya di keluasan dan keindahan pantai tadi,
maka saya nyaris tidak merasakan lagi sakit
kepala saya yang tadinya sangat sakit.Hal yang
sama juga bisa kita cobakan saat tangan atau
bagian tubuh kita yang lainnya yang sakit.
Dengan cara yang sama kita bisa merasakan
bahwa saat kita bisa mengalihkan kesadaran kita
keluar dari bagian tubuh kita yag sakit itu, maka
kita bisa tidak merasakan sakitnya lagi, paling
tidak untuk beberapa saat.Makanya salah satu
metoda pengobatan yang dicoba kembangkan
orang adalah dengan metoda “kembali” ke alam.
Dan ternyata banyak pula yang berhasil, sehingga
kemudian bermunculanlah pengobatan alamiah,
yang salah satunya adalah pengobatan dengan
meditasi di alam terbuka.Dan cara yang paling
jitu untuk bisa keluar dari kesadaran tubuh kita
ini adalah dengan cara TIDUR. Ya…, tidur. Saat
kita bisa tidur, dimana kesadaran kita terhadap
ketubuhan kita berada pada titik NOL, maka kita
nyaris tidak akan merasakan sakit sedikitpun
atas bagian-bagian tubuh kita yag sakit. Dan tidur
inipun ternyata bisa dipaksa dengan memakai
obat tidur, opium, obat bius, narkotika, dan
sebagainya.
Sekarang mari kita lihat bagian lain dari NAFS
(DIRI) kita, yaitu bagian DADA. Kalau kita
perhatikan dada kita dengan bodoh-bodohan
saja, maka akan kelihatan bahwa dada setiap
orang nyaris sama saja. Dia terbuat dari daging
yang notabene hanyalah saripati tanah, carbon,
oksigen, dsb. Akan tetapi ternyata di dalam dada
kita ini ada pula ruangan atau tempat untuk bisa
terjadinya berbagai suasana yang disebut orang
dengan SUASANA RASA.Saat kita berada dalam
sebuah problematika hidup yang sangat pelik,
rumit, dan berat, maka bagian pertama yang akan
terkena adalah DADA kita. Dada kita akan terasa
seperti mau pecah, seperti dipalu, yang sakitnya
bisa membuat kita meraung-raung. Misalnya saat
kematian orang yang kita cintai, maka dada kita
akan seperti diiris-iris sehingga tidak jarang kita
lihat orang yang meronta-ronta, histeris,
berkelojotan seperti ayam disembelih. Bahkan
saking kuatnya rasa sakit itu menghantam dada
kita, maka ada pula diatara kita yang sampai
pingsan dibuatnya.Sebaliknya saat kita
mendapatkan berbagai kemudahan dalam hidup
kita, maka DADA kita akan bergelora pula dengan
munculnya sensasi-sensasi berupa rasa enak,
bahagia, senang, dan sebagainya. Bahkan pada
puncak rasa senang dan bahagia, kita juga bisa
melompat-lompat, berteriak, menangis, dan
bahkan sampai pingsan pula dibuatnya.Andaikan
kita coba pula membawa kesadaran kita menjauh
dari dada tersebut, misalnya dengan kita
mendengarkan suara musik, alunan bacaan ayat-
ayat kitab suci, ataupun sekedar berbagi susah
maupun senang dengan orang lain, maka sakit
yang mencabik-cabik atau senang yang meledak-
ledak di dalam dada kita tadi akan bisa kita
redam, atau paling tidak kita kurangi. Kalau kita
perhatikan dengan sadar penuh…, yang sakit dan
yang senang, yang menderita dan yang
berbahagia itu apakah dada kita, atau kitanya
sendiri yang sedang sakit dan senang, bahagia
dan menderita itu…?.
MEMETIK PELAJARAN AWAL…
Dari dua contoh ini saja kita sudah dapat
memetik kepahaman bahwa ternyata Jiwa kita
ini mirip dengan labirin yang mempunyai
ruangan-ruangan. Batas antara ruangan-ruangan
itu tidak bisa lagi kita definisikan dengan tepat.
Nah tiap-tiap ruang itu mempunyai karakternya
masing-masing. Ketika kesadaran kita tertambat
diruangan tertentu di dalam dada kita, maka kita
akan merasakan dampak atas karakteristik
ruangan itu. Biar mudah untuk memahaminya,
maka anggap saja kita ini punya sebuah rumah
yang memiliki dua buah ruangan. Salah satu dari
ruangan itu dirancang mempunyai tungku
pembakaran yang bisa memanaskan ruangan
tersebut sesuai dengan kebutuhan. Misalnya,
panas ruangan itu bisa diatur hanya sekedar
untuk memanaskan udara saat musim salju
datang, atau bisa juga diatur untuk memanggang
puluhan ekor bebek untuk kebutuhan sebuah
restoran. Sedangkan ruangan yang satunya lagi
dibuat dengan spesifikasi mempunyai “chiller”
yang bisa diatur-atur sesuai kebutuhan pula.
Chiller di ruangan itu bisa diatur sekedar hanya
untuk mendinginkan badan kita saat musim
panas yang kering kerontang atau bisa pula
dipakai untuk membekukan daging untuk
persediaan makanan beberapa waktu lamanya.
Marilah kita berhenti disini sejenak untuk
mengamati tentang rumah kita tersebut.
Walaupun di dalam rumah kita itu ada ruangan
yang berkarakter panas dan ruangan lainnya
dengan karakter dingin, akan tetapi ruangan-
ruangan itu sendiri sebenarnya tidak akan
pernah tahu apakah dia ruangan panas atau
ruangan dingin. Masing-masing ruangan itu
hanya akan menjalankan destininya sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh
sang perancangnya sendiri, yaitu menjadi
ruangan panas dan ruangan dingin. Tidak lebih
dan tidak kurang. Nah…, agar ruangan-ruangan
itu bisa berfungsi dan bermanfaat sesuai dengan
spesifikasi dan karakternya masing-masing,
maka harus ada orang yang dikirim keruangan
tersebut untuk memanfaatkannya sesuai dengan
PERUNTUKANNYA, memakainya pada SAAT yang
tepat, dan mengelolanya dengan CARA-CARA
yang baik pula. Orang yang dikirim tersebut
bisalah dinamakan sebagai seorang pengelola,
seorang duta, atau seorang suruhan yang
mewakili perancang dan pemilik rumah tersebut
dalam mengelolanya dengan baik. Kalau sang
duta salah dalam menentukan peruntukkannya,
waktunya juga keliru, serta cara-caranya yang
amburadul, maka ruangan-ruangan itu dikatakan
sebagai ruangan yang tidak digunakan sesuai
dengan destininya masing-masing. Sehingga
dapatlah dikatakan bahwa ruangan itu telah
disalahgunakan oleh orang yang diamanatkan
untuk mengelolalnya dengan baik. Dan orang
yang menyalahgunakan amanat tersebut
dinamakan juga sebagai Sang
Pengkhianat.Sekarang marilah kita amati
bagaimana sang orang suruhan itu melakukan
kegiatannya sehari-hari. Misalnya, anggap sajalah
kita sendiri yang menjadi orang suruhan dalam
mengelola rumah tersebut. Suatu saat kita masuk
keruangan yang pertama yang panas. Untuk
sementara marilah kita abaikan saja dulu untuk
apa kita masuk kedalam ruangan tersebut. Kita
amati saja bagaimana tindakan kita saat kita
masuk keruangan tersebut. Begitu kita masuk
keruangan yang panas tersebut, maka kita
langsung pula akan merasakan adanya panas
yang mengalir kepada kita. Kita akan merasakan
kepanasan. Kita akan mulai terpengaruh oleh
panasnya ruangan tersebut. Kita menjadi tersiksa
dengan udara panas tersebut. Ya… kita menjadi
tersiksa kepanasan. Dan kita menjadi TAHU,
menjadi PAHAM bahwa ruangan yang kita
masuki itu adalah ruangan yang ada tungku
perapiannya. Dan akibatnya kita malah mulai
pula kehilangan orientasi kita. Kita mulai
mengira-ngira dan merasa bahwa kitanya
sendirilah yang panas. “Ooo…, diri saya
kepanasan nih …!”, gumam kita. Pada langkah
berikutnya, yang akan kita lakukan paling tidak
ada dua hal. Pertama…, kita buru-buru ingin
KELUAR dan MENJAUH dari ruang panas
tersebut. Kita akan mencari jalan keluar dan
masuk keruangan yang tidak panas. Atau
kedua…, kita akan berputar-putar saja diruang
tersebut tidak tahu apa yang akan kita lakukan,
sehingga kita menjadi sangat tersiksa oleh
panasnya ruangan tersebut, bahkan sampai-
sampai kita bisa mati kepanasan.Taroklah kita
ingin buru-buru keluar dari ruangan panas
tersebut, dan kita tahu pula jalan keluar dari
ruangan panas tersebut. Begitu pintu ruangan itu
kita buka, maka kita lalu masuk keruangan
kedua yang ternyata adalah ruangan yang dingin.
Kita lalu masuk keruang yang dingin tersebut.
Untuk sementara kita mungkin bisa merasa
terhindar dari serangan udara panas seperti
diruangan yang pertama tadi. Akan tetapi dalam
beberapa tarikan nafas saja kita akan mulai pula
TAHU dan PAHAM bahwa ruangan yang kita
masuki itu benar dingin adanya. Lalu kita mulai
tersiksa dengan dinginnya ruangan yang kedua.
Udara dingin mulai menusuk-nusuk tulang kita
pula sehingga kita mulai menggigil kedinginan.
“Duuhh…, saya kedinginan..!”, keluh kita mulai
kehilangan orientasi pula. Lalu kita ingin pula
keluar dari ruangan yang dingin tersebut mencari
ruangan atau alamat lainnya yang tidak dingin.
Kalau tidak keluar, maka kita akan tersiksa terus
oleh dingin yang membekukan darah tersebut,
sehingga kita bisa pula mati kedinginan.Dan
begitulah…, kalau rumah yang kita kelola itu
hanya mempunyai dua ruangan saja, yaitu
ruangan dingin dan ruangan panas, maka dari
waktu kewaktu kita akan sibuk terus untuk
keluar masuk dari masing-masing ruangan
tersebut agar kita tidak terlalu tersiksa dengan
panas dan dinginnya ruangan tersebut.
Celakanya lagi…, kita juga akan kehilangan
ORIENTASI pula dan MENGIRA bahwa kita
sendirilah yang panas dan dingin itu. Kesadaran
kita mulai tinggal hanyalah sebatas ruangan yang
panas dan dingin tersebut. Keadaan itu berlajut
terus sampai sang pemilik rumah mengambil
kembali mandatnya dari kita untuk mengelola
rumah tersebut. Lalu buat apa kita disuruh untuk
mengelola rumah tersebut kalau hanya untuk
membuat kita sibuk menghindarkan diri dari
siksaan ruang yang panas dan ruangan yang
dingin itu…?. Lalu buat apa dia menyiksa kita…?.
Alangkah jahatnya sang pemilik rumah itu kalau
dia menyuruh kita menglola rumah tersebut
hanya untuk membuat kita tersiksa. Kita mulai
menyalah-nyalahkan sang pemilik rumah yang
menyuruh kita mengelola rumah tersebut:
“Pemilik rumah macam apa dia itu…, tega-
teganya dia menyiksa saya…?”, protes kita
dengan garangnya.
“Dimana keadilanmu wahai sang pemilik
rumah…?”, kita mencak-mencak didalam
ruangan yang panas dan dingin tersebut setiap
waktu.
YANG JARANG DILIRIK …
Untuk keluar dari suasana tersiksa diatas karena
rumah tersebut yang hanya punya dua ruangan,
yaitu ruangan panas dan ruangan dingin,
sebenarnya ada cara lain yang sangat jitu dan
sederhana. Cara itu adalah dengan kita “keluar”
dari ruangan di rumah tersebut dan kemudian
“datang langsung” kepada sang perancang dan
pemilik rumah tersebut dan memohon
kepadanya untuk segera dibangunkan ruangan
lainnya yang tidak panas dan tidak dingin. Ya…,
minta kepadanya ruangan yang sedang-sedang
saja. Atau bisa pula kita meminta kepadanya agar
dibuatkan alat yang bisa mengatur suhu
dimasing-masing ruangan tadi itu. Sehingga kita
bisa mengatur suhu ruangan tersebut sesuai
dengan kebutuhan kita.Hanya untuk bisa
terlaksananya langkah alternatif seperti ini
dibutuhkan prakondisi dimana kita harus tahu
persis dengan sang perancang dan pemilik rumah
tersebut. Kita harus tahu dirinya, tahu alamatnya,
tahu sifatnya, tahu cara meminta kepadanya.
Kalau kita tidak tahu dengan pas, atau ragu-ragu
sedikit saja, maka kita akan datang kepada orang
yang salah. Kita yang datang kepada orang yang
salah dengan alamat yang salah pula disebut juga
sebagai orang yang tersesat. Walaupun begitu
untuk langkah ini sebenarnya tidaklah terlalu
susah, atau tepatnya sederhana saja. Karena
memang pada dasarnya kita sudah kenal dengan
dia dengan sangat dekat. Sebab sang pemilik
rumah itu sendirilah yang telah menugaskan kita
untuk mengola rumah tersebut melalui sebuah
proses serah terima yang sederhana pula. “Aku
adalah pemilik rumah ini, bukankah kau itu
adalah pesuruhku, maka kau kelolalah rumah ini
dengan baik…!”, tanya sang pemilik rumah
tersebut, walau dengan nada angkuh tapi tetap
saja menyiratkan kemesraan. Lalu kita
menyambutnya dengan merendah-rendah:
“benar tuan, kau adalah tuanku, dan aku adalah
pesuruhmu, saya siap untuk mengelolanya
dengan baik…!”. Begitulah kira-kira bunyi
transaksi sederhana itu. Dan sebenarnya kita
tinggal me-recall atau me-rewind saja suasana
serah terima yang sederhana tersebut diatas, dan
meminta kepada sang penyuruh kita itu agar
dibuatkan ruangan yang baru tadi. Dan
luarbisanya lagi, karena dia sangatlah penyayang
kepada kita, maka dia akan membangunkannya
buat kita. Sehingga kita tinggal masuk kembali ke
dalam rumah tersebut yang telah ditambah oleh
sang pemiliknya dengan ruangan lain yang tidak
panas dan tidak dingin. Dan kembali kita
jalankan tugas kita mengelola rumah
tersebut.Sekarang taroklah bahwa kita
dibangunkannya sebuah ruangan lain yang tidak
terlalu panas dan tidak terlalu dingin dirumah
tersebut, misalnya ruangan beranda diluar
rumah. Tambahan lagi kita ruangan tersebut juga
sudah dilengkapi dengan alat pengatur suhu
sehingga kita bisa mengatur suhu masing-masing
ruangan tersebut sesuai dengan yang
dibutuhkan. Maka hampir secara otomatis kita
juga akan merubah sikap dan tindakan kita
dalam mengelola rumah tersebut. Seringkali pula
kemudian kita kehilangan orientasi didalam
rumah tersebut.
TERDISORIENTASI…
Saat kita masuk kedalam ruangan yang sedang
panas membara, maka kita lalu lari dari ruangan
tersebut menuju beranda rumah. Dari sana kita
bisa menggunakan alat atur suhu untuk
mengatur suhu diruangan yang panas tersebut.
Kita bisa mengatur panas ruangan tersebut
menjadi sama dengan temperatur ruangan atau
sedikit diatasnya. Begitu nanti suhu di beranda
luar mulai dingin pula, misalnya saja salju mulai
turun, dan suhu di beranda luar ruangan mulai
dingin pula, maka kita bisa buru-buru masuk
keruangan panas tadi yang sekarang sudah tidak
panas membara lagi. Sehingga kita bisa merasa
enak dan tidak tersiksa lagi. Ya.., kita bisa merasa
nyaman walau temperatur diluar rumah sedang
rendah sekali karena diguyur oleh salju yang
tebal. Andaikan yang kita lakukan adalah
terbalik, dimana saat suhu udara diberanda luar
rumah juga sedang dingin-dinginnya, lalu kita
masuk keruangan yang juga dingin membeku
didalam rumah, maka saat itu kita disebut
sebagai orang yang sedang tersesat. Ya…, kita
tersesat dengan masuknya kita keruangan yang
salah, sehingga kita akan tetap saja menjadi
tersiksa kedinginan. Kita akan sama tersesatnya
jika kita masuk keruangan yang panas saat udara
diberanda luar rumah juga panas.Begitu kita
masuk keruangan yang tepat dan temperaturnya
juga sudah diatur dengan pas pula, maka ketika
kita berhadapan dengan udara diberanda luar
rumah yang terlalu panas ataupun terlalu dingin,
kita akan merasakan betapa nyamannya ruangan
rumah yang kita masuki itu. Kita akan merasakan
kenikmatan dalam menjalankan tugas kita
mengelola rumah tersebut. Kita tidak akan
tersiksa lagi seperti diawal-awal tadi baik oleh
lingkungan disekitar rumah kita maupun oleh
karekateristik ruangan-ruangan yang ada
didalam rumah tersebut. Pada taraf tertentu
kitapun mulai kehilangan orientasi pula sehingga
kita menganggap bahwa kitanya sendirilah yang
enak dan nyaman tersebut. Sehingga kita
bergumam dengan renyah:
“Ahhh…, saya bisa merasakan betapa nikmatnya
saat ini …”, atau
“Uuennak tenan oiii…”, kata kita mulai
kehilangan orientasi pula.
Padahal adanya siksa, adanya tidak enak, adanya
nyaman, dan adanya enak adalah karena adanya
ruangan panas, ruangan dingin, dan lingkungan
beranda rumah yang temperaturnya berubah-
rubah sesuai musim yang mempengaruhi kita.
Ya…, kita hanya sekedar terpengaruh saja oleh
panas dan dingin itu tadi saat kita berada dalam
ruangan yang panas dan yang dingin tersebut.
Akan tetapi kita seringkali kehilangan orientasi
sehingga kita merasakan bahwa kitalah yang
panas, kitalah yang dingin, kitalah yang tersiksa,
kitalah yang bahagia. Singkatnya adalah bahwa
dengan kesadaran seperti ini, maka kita hanya
menganggap bahwa diri kita tak ada bedanya
dengan ruangan-ruangan panas dan dingin
tersebut tadi. Kalaupun ada muncul juga
kesadaran kita kepada pemilik rumah yang telah
berbaik hati kepada kita, paling-paling yang kita
lakukan adalah dengan dengan mengucapkan
ungkapan-ungkapan klise seperti:
“Ah…, betapa baiknya sang pemilik rumah ini.
Beliau telah memberikan saya rumah yang
nyaman ini untuk saya kelola…!”, ungkap kita
dengan berbinar-binar.
“Duh…, terima kasih wahai sang pemilik rumah
yang baik…!”, puji kita kepadanya tanpa kita tahu
dimana dia berada.
Demikianlah…, sampai pada tahapan seperti ini,
maka kita juga hanya akan sibuk hilir-mudik dan
keluar-masuk ruangan-ruangan yang tepat pada
saat yang tepat demi untuk menghindar dari
temperatur yang tidak nyaman bagi diri kita
sendiri. Dari hari kehari kita hanya sibuk mencari
kenikmatan, mengejar kebahagiaan, mengapai
ketenangan untuk diri kita sendiri. Ya…, amanat
yang diberikan kepada kita untuk mengelola
rumah tadi dengan baik, malah kita gunakan
hanya untuk kenikmatan diri kita sendiri. Akan
tetapi kita lupa bahwa ruangan panas dan dingin
yang ada di dalam rumah kita itu juga ada
manfaatnya bagi orang lain. Ruangan panas itu
dapat kita gunakan untuk memanggang makanan
seperti roti, bebek, ayam ataupun daging sapi.
Lalu hasilnya bisa dimakan oleh orang. Begitu
juga…, ruangan dingin dapat kita pakai untuk
mengawetkan bahan makanan dan sayuran,
sehingga bisa pula dimanfaatkan orang lain pada
saat yang tepat. Dan banyak lagilah manfaat yang
bisa dipetik dari ruangan panas dan dingin
didalam rumah yang kita kelola. Kalau sudah
begini…, maka setidak-tidaknya kita sudah
bisalah sedikit banyaknya untuk mengaku bahwa
kita sudah berhasil dalam menunaikan amanat
dari sang pemilik rumah untuk mengelola,
memanfaatkan rumah yang diberikan kepada
kita.
TERKURUNG DI LUAR…
Saat kita sudah begitu leluasanya keluar-masuk
dari ruangan panas dan dingin dirumah yang kita
urus, dan begitu gampang pula ternyata untuk
datang dan mengadu kepada sang pemilik rumah
saat kita berhadapan dengan panas dan
dinginnya ruangan rumah kita, maka dengan
gampang pula kita akan berada dalam kurungan
baru. Kita terkurung tapi diluar. Ya…, kita
terkurung diluar rumah dan enggan masuk
kembali kerumah yang menjadi tanggung jawab
kita.Begitu kita terkurung diluar, maka banyak
kemungkinan yang bisa terjadi. Dan kesemuanya
itu sungguh mengasyikkan. Kemungkinan
pertama…, kita bisa keluar-masuk rumah-rumah
lain disekitar kita. Walaupun karakter rumah
tetangga itu sebenarnya tidak banyak bedanya
dengan rumah kita sendiri, disana juga ada
ruangan panas dan dingin, akan tetapi konon
kabarnya rumah tetangga itu bisa kelihatan lebih
indah. Kita kemudian menjadi asyik pula
mengurus ruangan rumah tetangga kita yang
sebenarnya adalah tanggung jawab orang lain
untuk mengurusnya. Saat kita berhasil
membenahi satu rumah tetangga kita, dan
kemudian keberhasilan itu berlanjut ke rumah
tetangga-tetangga lainnya, maka ketika itu pula
kita akan menjadi sangat sibuk sekali. Bisa jadi
pula kita akan lupa dengan rumah kita sendiri.
Kalau kita sudah begini, kita kan tidak amanah
juga namanya, kalau tidak mau dikatakan
TERSESAT.Kemungkinan kedua…, begitu kita
bisa berada diluar rumah, ternyata disana tidak
ada panas dan tidak ada dingin lagi. Ya…, diluar
itu tidak ada rasanya lagi. Tidak ada tersiksa lagi.
Tidak ada apa-apanya lagi. Bisa saja diluar rumah
tersebut kita juga merasa sangat dekat dengan
sang pemilik rumah. Sehinga kita menjadi tidak
bersemangat lagi untuk masuk kedalam rumah
untuk mengurusnya. Karena memang di rumah
tersebut kita kembali akan didera olah rasa
panas dan dingin. Masih ada rasa tersiksanya.
Posisi tidak maunya kita kembali kedalam rumah
ini bisa disebut juga sebagai posisi seorang
pengkhianat. Demikianlah pelajaran awal yang
dapat kita petik dalam upaya kita untuk
memahami kenapa Tuhan selalu berbicara
kepada kita sebagai sosok NAFS, bukannya RUH.
Sekarang mari kita lanjutkan saja perjalanan
kita. Mumpung sedang ada pengajaran yang
turun…!.MEMBACA DIRI (NAFS)…Untuk
pertanyaan Mas Sabari diatas, ternyata kita bisa
mendapatkan jawabannya melalui ekplorasi
terhadap diri kita sendiri. Yang diperlukan
hanyalah mau atau tidaknya kita untuk
melakukan sedikit saja perubahan pada
kesadaran kita. Cobalah SADARI dengan PENUH
bahwa DIRI KITA (NAFS) ini ternyata adalah
bentuk AYAT TUHAN, OMONGAN TUHAN yang
jarang sekali kita dengar dan kita baca (IQRAA).
Padahal setiap saat ALLAH sibuk “Berbicara dan
Mengajari” kita melalui diri kita ini, seperti
diisyaratkan Allah dalam ayat-ayat Al qur’an
berikut: Dan pada penciptaan kamu dan pada
binatang-binatang yang melata yang bertebaran
(di muka bumi) terdapat ayat-ayat Allah untuk
kaum yang meyakini, (QS al Jaatsiyah 45:
4).Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat
yang nyata di dalam dada orang-orang yang
diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari
ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
(QS Al Ankabuut 29:49) Akan tetapi, diri kita
inilah yang jarang sekali kita dengan dan baca
sebagai ayat-ayat dan bahasa dari Tuhan, padahal
Allah menyatakan dalam Al qur’an dengan tegas
sekali …: “TILKA AYATULLAHI NATLUHA
‘ALAIKA BIL HAQ…!. itulah ayat-ayat allah yang
kami membacakannya kepadamu dengan
sebenarnya; FABIAYYI HADIISTIN BA’DALLAHI
WA AAYAATIHI YU’MINUUN…!, maka dengan
perkataan manakah lagikah mereka akan
beriman sesudah (kalam, ayat) Allah dan
keterangan-keterangan-Nya (itu). (QS al Jaatsiyah
45: 6).“ITULAH…!!!!, jangan kemana-mana dulu”,
kata Allah yang perlu kita baca dan amati agar
kita bisa menuai kepahaman tentang diri kita
sendiri dan juga tentang Tuhan tentunya. “ITU
semua Kusampaikan bukan dengan main-main,
tapi dengan HAQ…!. Maka dengan ayat macam
apa lagi kalian bisa Ku yakinkan untuk bisa
beriman kepada-Ku…?”, kata Allah seperti
bentuk sebuah keluhan atas kebebalan kita.Oleh
sebab itu mari kita lakukan saja pengamatan
terhadap diri kita seperti yang diperintahkan
Tuhan dalam ayat tersebut…!.Pada tingkat yang
lebih nyata pengamatan itu mungkin telah kita
lakukan dengan detail yang sangat
mengagumkan, yaitu proses kejadian kita dari
saripati tanah, kemudian berproses didalam
rahim ibu menjadi menjadi seorang bayi, lalu
berproses menjadi tua dan mati. Begitu pula
seluruh atribut alat-alat kita yang bisa dilihat
dengan mata. Semua sudah tidak perlu diragukan
lagilah pengamatan yang kita lakukan. Dari
sinilah kemudian kita bisa menangkap bahasa
Allah yang lebih komplit dalam bentuk bahasa
ilmu kedokteran, ilmu biologi dan sebagainya.
Untuk hal-hal seperti ini tidak akan kita bahas
dalam artikel ini. Silahkanlah bapak atau ibu
yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu tersebut
mengurainya dengan lebih baik.Kemudian pada
tingkat yang lebih dekat dengan kita saat ini,
yaitu aliran masuk dan keluarnya nafas kita serta
detak jantung kita sendiri, juga telah saya bahas
pada artikel lainnya, yaitu “Membaca Qalam,
Menuai Paham”. Silahkan baca lagi artikel
tersebut untuk menambah kepahaman kita.Akan
tetapi, begitu kita masuk ketingkat pemahaman
yang lebih abstrak, yaitu mengenai keakuan kita,
kejiwaan kita sendiri, diri kita sendiri (AN NAFS)
maka akan kita dapatkan begitu banyaknya
uraian-uraian yang sampai kepada kita. Beratus-
ratus buku telah diwarikan kepada kita secara
tertulis. Dan yang kita lakukan malah lebih
kepada membaca buku-buku tersebut, dengan
semangat empat lima pula, daripada kita
membaca dan mengamati diri kita sendiri.
Akhirnya kita memang tumbuh menjadi generasi
yang tahu banyak tentang diri kita secara bahasa
tertulis, akan tetapi pada saat yang sama kita
telah menjadi MISKIN pada taraf bahasa
KEPAHAMAN, KEMENGERTIAN, atau NGEH…
Untuk mengurai benang kusut teori-teori yang
menyebabkan kita ini tidak begitu paham lagi
tentang diri kita sendiri, maka mari kita amati
dada kita seperti yag diperintahkan Allah pada
ayat al Qur’an diatas (… di dalam DADA orang-
orang yang diberi ilmu…). Analogi tentang
ruangan panas dan dingin diatas dapatlah kita
pakai sebagai batu loncatan untuk menaikkan
kesadaran kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s