LA ILAHA ILALLAH

Dimana titik awal Islam itu baru
bisa kita mulai dengan nyaman?. Titik itu adalah
sebuah Ruangan Maha Besar, yang didalamnya
sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa kita
visualkan, bayangkan, dengarkan, rasakan, dan
emosikan. RUANG SPIRITUAL. KEKOSONGAN
MAHA BESAR yang meliputi segala sesuatu. Ya…,
Sang Maha Meliputi… Sang Maha Meliputi semua
materi, semua cahaya, semua energi, semua
getaran, semua daya, semua gerak, semua pikiran,
semua persepsi, semua kehendak, semua
penglihatan, semua pendengaran, semua rasa,
semua waktu, semua jarak, semua dimensi, semua
ruang, semua dunia, semua akhirat, semua syurga,
semua neraka, semua wujud, semua malaikat,
semua makhluk, semua sifat, semua baik, semua
buruk, semua senang, semua susah, semua
bahagia, semua sedih, semua aksara, semua kata,
semua kalimat, semua bunyi, semua hidup, semua
mati, semua nafas, semua apa saja.., bahkan
meliputi semua kesadaran… Ahh…, RUANGAN
yang merupakan realitas dari sebuah kalimat
sederhana yang membawa kesadaran kita untuk
menafikan segala sesuatu, LAA ILAHA…!. Ruang
yang tidak ada apa-apa lagi disitu yang bisa kita
nafikan (tiadakan). KOSONG…, HENING…, ABADI…,
AL BATHIN…, ALIF LAM MIM…, NUN… Masalahnya
adalah, saat kita ingin menyadari kekosongan ini,
kita dihadapkan pada banyak referensi yang tidak
mudah untuk dimengerti. Kita digiring kepada
pengetahuan-pengetahuan yang rumit. Semakin
rumit ilmunya, maka itu dikatakan semakin hebat.
Makanya untuk menemukan suasana kekosongan
ini saja, kita juga berumit-rumit ria. Haruslah begini,
haruslah begitu, haruslah begiti, haruslah begito,
haruslah begita. Akhirnya kita jadi pusing sendiri…
Padahal siapapun juga, siapa saja, sebenarnya
punya kesempatan yang sama untuk bisa
menyadari adanya kekosongan abadi ini. Sesuatu
yang tidak perlu dicari-cari dan dibayang-
bayangkan. Wong kosong kok dicari dan
dibayangkan?. Ya ndak bakalan ketemu.
Sebenarnya kita tinggal DEKONSENTRASI…,
KOSONG…, lalu tunjuk saja INI, selesai sudah…
Kalau ada yang masih bingung juga, maka sebuah
teknik yang amat sederhana berikut barangkali bisa
dijadikan sebagai alternatif cara yang patut dicoba.
Yaitu teknik TIDAK MENGAKU. Ya…, tidak
mengaku…!. Masak itu sulit. Jadilah tidak mengaku
pintar, tidak mengaku hebat, tidak mengaku khusyu,
tidak mengaku bisa, tidak mengaku tersiksa, tidak
mengaku sedih, tidak mengaku hidup, tidak
mengaku ada, tidak mengaku apa saja… Lha…,
bagaimana mau tidak mengaku kalau selama ini kita
diajarkan untuk mengaku-ngaku. Ini milikku, ini
tanganku, ini dadaku, ini hartaku, ini pintarku, ini
bisaku, ini seribu pengakuanku… Dan semua
pengakuan kita itu sudah karatan berada didalam
ceruk-ceruk memori otak kita. Anehnya lagi,
semakin kita tidak mengaku, malah sebaliknya
pengakuan kita itu semakin pekat muncul didalam
pikiran kita. Saat kita mengaku tidak hebat, maka
yang muncul didalam pikiran kita malah kita yang
hebat. Saat kita mengaku tidak sombong dan
angkuh, maka yang muncul didalam pikiran kita
malah saya sombong dan angkuh. Cobalah kalau
tidak percaya. So what gitu lho…
Ya begitulah, kalau kita mencoba untuk tidak
mengaku itu dengan pikiran kita. Untuk tidak
mengaku itu, kita masuk kedalam alam memori
pikiran kita. Bahwa untuk mengaku tidak hebat itu
caranya begini dan begitu, untuk mengaku tidak
sombong itu kita harus begini dan begitu. Hanya
sekedar definisi-definisi saja kesemuanya itu.
Padahal sombong itu adalah rasa. Rasa sombong.
Begitu juga dengan rasa-rasa yang lainnya, seperti
rasa hebat, rasa angkuh, rasa bisa, rasa hidup, rasa
kaya, rasa ada… Dan jadilah kita menjalankan rasa
itu dalam setiap langkah kehidupan kita. Saat dada
kita dilekati oleh rasa angkuh, maka kita akan
menjalankan keseharian kita dengan rasa angkuh
itu. Kepada siapa saja kita akan angkuh. Malah
semakin lemah dan rendah orang lain yang ada
dihadapan kita, maka rasa angkuh itu akan semakin
kental dan pekat pula munculnya. Dan kita sangat-
sangat terbiasa masuk dan terikat dengan rasa
angkuh itu. Kita dililit oleh rasa angkuh itu, seperti
lilitan seekor ’ular anakonda’ yang super besar. Kita
terengah-engah seperti kesulitan bernafas. Semakin
dalam kita masuk kedalam ruangan rasa angkuh itu,
semakin sesak pula nafas kita. Malah sesak nafas
kita itu akan lebih parah lagi kalau ada orang lain
yang ’menggemai’ (menyentuh) rasa angkuh kita itu
dengan rasaangkuh miliknya, yang menurut kita
rasa angkuh dia jauh dibawah rasa angkuh kita.
Sesak dan menyiksa sekali. Sekarang cobalah iqra…,
baca, amati rasa kita masing-masing dengan
seksama. Saat aku dipalun oleh rasa angkuh, maka
akan muncul rasa angkuhku. Aku di lilit oleh rasa
angkuh. Aku diliputi oleh rasa angkuh, sehingga
akupun jadi angkuh. Ooo…, lihatlah…, ada aku dan
ada rasa angkuh. Dan alat untuk menangkap rasa
angkuh itu adalah dadaku, bukan mataku, bukan
telingaku, bukan lidahku, bukan pula kulitku.
Sedangkan otakku hanyalah alat yang berguna
untuk menyimpan memori rasa marah itu,
sehingga rasa marah itu bisa dengan mudah
mengalir kembali kedalam dadaku setiap saat. Oleh
sebab itu untuk memahami rasa itu, janganlah
gunakan mata, telinga, lidah, dan kulit kita. Untuk itu
gunakanlah dada kita. Yap…, rasa angkuh dan
sombong, rasa mengaku itu tadi, ternyata letaknya
ada di DADA kita. Ada aku dan ada dadaku. Aku
menjadi pengamat atas dadaku. Aku menjadi
terpisah dengan dadaku. Tuh ada dadaku
dibawahku. Aku berada diatas dadaku, diatas
semua rasa, ”balil insanu ’ala nafsihi bashirah”,(al
Qiyamah 14). Dan menakjubkan sekali…, begitu kita
berhasil menjadi pengamat atas dada kita dengan
arif, kita seperti keluar dari dada kita. Kita seperti
berada diatas semua rasa kita. Seketika itu pula kita
akan terbebas pula dari berbagai rasa pengakuan
yang tadinya menyergap kita. Sebab aku ternyata
adalah wujud yang tidak pernah mengaku apa-apa,
karena aku memang tidak pernah terikat dengan
berbagai bentuk pengakuan. Aku adalah wujud
yang melampui semua rasa pengakuan. Aku adalah
wujud yang semurni-murninya wujud, Ar Ruh. Aku
adalah wujud yang tidak terpengaruh oleh rasa
senang maupun sedih. Aku adalah diri yang tidak
terikat oleh rasa takut, rasa khawatir ataupun rasa
tenang. Aku adalah wujud yang berada dalam
ruang kekosongan dari segala pengakuan. Inilah
makna Laa ilaha.. yang sebenarnya…. Akulah Ar
Ruh yang sangat dekat dengan Tuhan, Sang
Pemilikku. INI… Kalau sudah begini, kita tinggal
selangkah lagi saja untuk menjadi seorang yang
bertauhid, seorang mukmin. Kita tinggal
MEMANCAR mengarah ke INI. Lalu panggil Sang INI
yang menyebut Diri-Nya dengan Nama ALLAH…,
sudah mukmin deh kita. Dan setelah itu kita siapkan
saja DADA kita untuk menerima berbagai
pemahaman dan pengajaran dari Allah terhadap
apa-apa yang tidak kita ketahui. Karena Dia
memang adalah Sang Mengajarkan (Rabbi) kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya, ’allamal
insaana maa lam ya’lam…’. Masak sih nggak
percaya?. Nantinya, barulah setiap pengajaran yang
kita terima itu kita lihat di peta atau referensi yang
sudah ada. Kita sudah sampai dimana, ada dimana,
hendak dibawa kearah mana, sedang mengalami
apa, sedang merasakan apa, dan sebagainya.
Sekarang pintar-pintarnya kita saja untuk mencari
referensi yang terbaik diantara referensi-referensi
yang ada. Kita mau pakai peta yang bagaimana
untuk meningkatkan kesadaran kita dari hidup yang
hanya sekedar berkutat dengan wujud yang kosong
menjadi hidup yang penuh keheran-heranan
melihat pada yang kosong ini ternyata ada
keberartian, ada keberadaan. ADA… Peta terbaik,
diantara peta-peta yang ada, menurut saya adalah
Al Qur’an. Ya… Al Qur’an. Peta yang memuat ilmu
tentang segala keberadaan dan keberartian,
sekaligus juga ilmu tentang semua ketidakberadaan
dan ketidakberartian. Nah…, bagi yang mau, ikuti
sajalah peta itu dengan telaten. Setiap membaca
sebuah ayat Al Qur’an, misalnya yang menerangkan
tentang sebuah kebaikan, selalulah lihat ke dalam
DADA kita sendiri. Lalu amatilah apakah suasana
dada kita itu sama dengan suasana yang
disebutkan oleh ayat Al Qur’an tentang kebaikan
tersebut. Karena semua kebaikan pastilah punya
suasana yang khas didalam dada kita. Kalau sama,
maka kita namanya sudah menjadi orang yang
bersaksi (syahid) terhadap kebenaran ayat tentang
kebaikan tersebut. Artinya dada kita saat itu adalah
Al Qur’an itu sendiri. Al Qur’an yang berjalan
dibagian kebaikan. Begitu juga saat kita membaca
sebuah ayat Al Qur’an tentang keburukan, atau
paling tidak tentang serba kebingungan kita tentang
selendang Allah, misalnya, maka buru-buru pulalah
lihat DADA kita. Amatilah suasana dada kita. Apakah
dada kita juga tengah penuh dengan suasana
keburukan atau serba kebingungan tentang Allah?.
Kalau ya, maka namanya dada kita itu juga sedang
sama dengan Al Qur’an, tapi dibagian yang tidak
baiknya. Kita telah menjadi Al Qur’an yang berjalan
tapi pada bagian tentang keburukan. Jadi seperti
apapun suasana DADA kita itu (termasuk suasana
isi otak kita), pastilah sama dengan salah satu atau
banyak ayat-ayat al Qur’an. Karena Al Qur’an
memang adalah gambaran dari segala
kemungkinan suasana dada dan otak seluruh umat
manusia dari zaman ke zaman. Oleh sebab itu
setiap kita membaca ayat Al Qur’an, janganlah
menganggap bahwa ayat tersebut adalah untuk
orang lain. Jangan…!. Sebab ayat itu adalah untuk
diri kita sendiri. Agar supaya kita menjadi saksi atas
kebenaran tentang adanya kebaikan dan keburukan
berikut dengan segala suasananya yang ada. Kalau
sudah bersaksi, maka barulah kita bisa
menceritakan tentang apa-apa yang kita
persaksikan itu. Kalau belum bersaksi, tapi kita
sudah berani-beraninya bercerita tentang segala
sesuatu yang suasananya belum ada didalam dada
kita, maka manfaatnya nyaris tidak akan ada bagi
orang lain yang mendengarkan atau membacanya.
Paling hanya sekedar akan menjadi ilmu semata
yang menyesaki otak mereka. Oleh sebab itu Allah
memperingatkan kita bahwa: ”Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tiada kamu kerjakan (alami)”. (Ash
Shaff 61:3) Al Qur’an menegaskan bahwa ada Allah
yang meliputi segala sesuatu. Oleh sebab itu siap-
siaplah untuk menerima kenyataan bahwa pada
kekosongan ini ternyata ada SANG ADA, yang
mengaku dengan sangat tegas: ”innani anallah laa
ilaha illa ana fa’budni wa aqimish shalaata lidzikri…
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”, (Thaha
14). Begitu SANG ADA menanamkan pengertiannya
didalam dada kita: ”innani anallah….”, maka
tegaskanlah, isbatkanlah: ILLA ALLAH…, ILLA ANTA…,
ILLA ANTA…, ILLA ANTA…, Benar Ya Allah, Hanya
Paduka saja yang ada, hanya Paduka saja yang hak,
hanya Paduka saja yang ada …”. ADA…, ADH
DHAHIRU, DZA LIKAL KITAB… Kalau Sang Ada sudah
bernyata didepan kita, ADH DHAHIRU, ADA…, maka
barulah panggil Dia dengan merendah-rendah:”Ya
Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…”. Artinya, saat kita
memanggil Dia, kita tidak lagi mengarahkan
kesadaran kita kepada materi apapun juga yang
bisa divisualkan, dibayangkan, didengarkan,
dirasakan, dan diemosikan. Kita semata-mata
menghadapkan seluruh kesadaran kita hanya dan
hanya kepada WAJAH ALLAH, Sang Ada… Ya…,
syahadat, sebagai pelajaran pertama saat kita
mengaku sebagai seorang yang percaya (beriman
kepada Allah), adalah untuk menyadari dengan
UTUH dan PENUH tentang: ”laa ilaha illaallah”.
ALLAH…, Dialah Al Bathinu, KOSONG, Alif Lam
Mim…, dan Dia pulalah Adh Dhahiru, ADA….”.
KOSONG Yang ABADI dan sekaligus pula ADA Yang
ABADI… Atau dalam tatanan kalimat yang sangat
sederhana adalah: Aku tidak akan pernah mengaku
apapun juga, biarlah Allah saja yang mengaku-
ngaku tentang apapun juga. Aku tiada, yang ada
adalah Allah. Kullu man alaiha faanin, wa yabqa
wajhu rabbika (Al Rahman 26-27). Lalu setiap saat
SANG ADA akan selalu menuntun kita untuk segera
mengaturkan sembah kepada-Nya. Setiap kita
memanggil-Nya: ”ya Allah”, maka Dia akan tuntun
kita: ”fa’budni, ya hamba-Ku, sembahlah Aku…,
mengabdilah kepada Aku…”. Begitu kita panggil
Dia: ”Ya Allah…”, mata kita ditundukkan-Nya:
”Wahai mata, merunduklah kepada-Ku. Rasakanlah
seperti apa yang juga dirasakan oleh hamba-
hamba-Ku yang saleh lainnya tentang bagaimana
cara seharusnya hamba-Ku menyembah-Ku.
Merunduklah…”. Dan matapun melepaskan
bebannya berupa butir-butir bening lembut yang
mengalir deras tak tertahankan. Semakin kita
panggil Dia, mata kitapun semakin didudukkan-Nya
dalam posisi persembahan. Lihatlah bagaimana
mata kita menyembah Tuhan-Nya dengan caranya
sendiri. Menangis. Biarkan sajalah sang mata
menyelesaikan prosesi penyembahannya itu
sampai tuntas. Diam. Saat kita panggil Allah, kulit
kitapun ditundukkan oleh Allah sendiri dalam posisi
persembahan kepada-Nya. ”Wahai kulit…,
merunduklah kepada-Ku…, fa’budni…”. Dan setiap
inchi kulit kitapun bergetar halus menyampaikan
sembah kepada-Nya. Boleh jadi pada awalnya
prosesi tersungkurnya kulit kita itu dihadapan Allah
dengan getaran yang agak kasar. Akan tetapi
biarkan sajalah kulit kita itu menyesesaikan
tugasnya sendiri dalam menyembah Allah. Lihatlah
betapa kulit kita bergetar, bulu-bulu halus kita
bergetar, tangan kita bergetar, tubuh kita bergetar
saat mereka didudukkan oleh Allah dalam posisi
persembahan. Tidak hanya itu, atom-atom tubuh
kitapun didudukkan Allah dalam posisi
persembahan kepada-Nya. Atom-atom tubuh kita
itu dibersihkan dan dimandikan oleh Allah dengan
Nur dari-Nya: ”fahua ’alaa nuurin mirrabbihi…”,
sehingga sang atom itupun seperti berubah
menjadi kupu-kupu yang menari riang menyambut
fajar yang sedang merekah bagi sebuah
kesempurnaan. Atom-atom tubuh kita yang tadinya
gelap karena bekas-bekas keangkuhan, dosa-dosa,
dan kekotoran kita, dicelup oleh Allah menjadi
atom-atom yang penuh oleh liputan cahaya iman,
islam, dan ihsan… Biarkan sajalah proses itu
berlangsung untuk beberapa saat. Karena
sebenarnya saat itu kulit kita dan atom-atom tubuh
kita sedang dituntun sendiri oleh Allah untuk
menuju posisi persembahannya yang sebenarnya.
Posisi TALINU (rileks, lembut, bergetar halus). Diam.
Ketika kita terus memanggil Allah dengan lembut,
tubuh kitapun akan dituntun sendiri oleh Allah
untuk menyampaikan sembah dan sujudnya
kepada Allah. ”wahai tubuh…, warka’uni…,
wasjudni…, waqtarib…, rukuklah kepada-Ku,
sujudlah kepada-Ku, marilah mendekat…!”.
Dengan cara mulai dari yang agak keras sampai
kepada cara-cara yang sangat santun dan halus,
tubuh kita akan dituntun oleh Allah untuk rukuk dan
sujud kepada Allah Sendiri. Karena memang cara
penyembahan tubuh kita kepada Allah adalah
dengan cara itu. Rukuk dan sujud. Ikuti sajalah
prosesi penyembahan tubuh kita kepada Allah ini
sampai selesai. Diam.Begitulah, mata kita, kulit kita,
tubuh kita, dan bahkan hati (dada, sudur) kita
secara telaten dituntun sendiri oleh Allah untuk
menyembah Allah. Dada kita akan direkahkan
sendiri oleh Allah untuk menjadi luas, tenang,
damai, dan tentu saja bahagia. Kita hanya
menikmati saja kesemuanya itu dengan rasa
terheran-heran. Dan kalau sudah begitu, maka kita
tinggal ikuti saja perintah Allah berikutnya, yaitu ”wa
aqimish shalaata lidzikri…”. Ya…, dirikan sajalah
shalat dalam suasana mata, kulit, tubuh, dan dada
kita menyembah Allah dengan caranya sendiri-
sendiri. Tidak usah diganggu. Dan kesemuanya itu
akan selalu membawa kita untuk ingat dan sadar
bahwa benar Allah adalah Tuhan kita yang maha
meliputi segala sesuatu. Kita tinggal siap-siap saja
lagi untuk menerima pencerahan demi pencerahan
yang memang kita butuhkan dalam hidup kita ini,
sebagai bekal kita dalam menjalankan tugas kita
sebagai wakil Allah, kurir Allah, duta Allah dialam
dunia ini. … Jadi selalu begitu: KOSONG (al bathinu,
Alif Lam Mim), DEKONSENTRASI, MEMANCAR KE
SINI, lalu siap-siaplah untuk menyadari bahwa pada
saat yang sama ada SANG ADA (adh dhahiru, dzaa
likal kitab). KOSONG dan ADA, Al Bathinu dan Adh
Dhahiru, ya… SATU. INI…!. Masak sih hanya sampai
ketemu yang KOSONG saja, ya bingunglah jadinya.
Kalau kosong, ya… namanya baru sadar akan Al
Bathinu. Sampai ketemu ADA gitu lho…, Adh
Dhahiru. INI…Jika Sang ADA sudah bernyata dalam
ketiadaan apapun juga (KOSONG), maka kita tinggal
bersiap-siap saja lagi dituntun oleh ALLAH sendiri
untuk mengenal, memahami, dan menyampaikan
berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan kita
sendiri. Karena Sang ADA memang telah
meletakkan dalam liputan-Nya paling tidak
sembilan puluh sembilan (99) Nama-Nya yang
menunjukkan aktifitas-Nya (Af’al-Nya) dalam
menata seluruh alam yang diliputi-Nya. Dimana ke
99 nama-Nya yang menunjukkan sifat, selendang,
aktifitas, atribut-Nya itu tepat berada dalam liputan-
Nya sendiri. Sehingga dengan gagah perkasa Dia
berhak bersabda: ”semua sebutan nama itu adalah
milik-Ku, oleh sebab itu menghambalah kepada Aku
saja…”. Lalu kita perhambakan saja diri kita kepada
Dia. Ya…, kita ikuti saja apapun permintaan-Nya
”seirama” dengan mata kita, telinga kita, kulit kita,
dada kita, tubuh kita yang dengan caranya sendiri-
sendiri ikut permintaan Allah pula, yaitu dengan
DIAM, TENANG, LEMBUT (TALINU). Dan Allah
kemudian menyatakan bahwa posisi terbaik untuk
menghamba kepada-Nya adalah dengan
mendirikan SHALAT. Karena shalat memang
diperuntukkan buat kita agar kita selalu bisa sadar
penuh kepada Allah. Dari awal shalat (takbiratul
ihram) sampai dengan salam tidak sehirupan
nafaspun kita terjauhkan dari Allah. Dalam shalat
kita selalu diajak untuk memandang Wajah Allah,
memuja Allah, memuji Allah, menyembah Allah,
merukui Allah menyujudi Allah, berbicara dengan
Allah, berdoa kepada Allah, dan tentu saja untuk
setiap aktifitas kita itu pasti ada respon dari Allah,
karena Dia memang ADA… ”innani anallah laa ilaha
illa ana fa’budni wa aqimish shalaata lidzikri…
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka meghambalah,
mengabdilah kepada Aku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku.”, (Thaha 14).Jadi ”laa ilaha
illaallah” itu sebenarnya bukanlah hanya sekedar
sebuah bacaan ringan dan berguman dilidah dan
dibibir saja. Tetapi itu adalah sebuah proses yang
sangat lembut dan mengharukan yang membawa
kita mampu untuk menjadi saksi atas diri kita yang
kehilangan segala pengakuan kita. Kosong, diam,
hening, abadi. Dan dengan seketika itu pula kita
akan menjadi saksi bahwa pada Wujud Keabadian
itu ada SANG ADA, yang mengaku namanya adalah
ALLAH. Karena kita bersaksi kepada-Nya, maka Dia
pun akan bersaksi pula kepada kita. Karena Dia
memang adalah Sang Maha Bersaksi, Asy Syahiid.
Setelah itu kitapun siap-siap dan bersedia untuk
dijadikan-Nya sebagai hambanya, pesuruhnya,
abdi-Nya, kurir-Nya dalam menyampaikan Sifat-Nya
dan Af’al-Nya untuk merahmati manusia dan alam
semesta disekitar kita. Pada waktu-waktu tertentu
kita tinggal duduk merendah-rendah, bersimpuh,
rukuk, sujud dan DIAM di depan Wujud-Nya dalam
ritual SHALAT sebagai sarana kita untuk minta
pertolongan, minta petunjuk, minta penilaian
kepada-Nya atas apa-apa yang akan dan yang
sudah kita kerjakan. Wasta’inu bish shabri wash
shalah…, mintalah pertolongan kepada ku dengan
SABAR (DIAM) dan SHALAT…( Al Baqarah 45). Dan
pastilah dia akan memberikan jawaban dalam
bentuh ILHAM (alhamaha), berupa solusi, jalan
keluar dari segenap masalah kita, dan rezki dari
pintu yang tidak kita sangka-sangka. Akhirnya tidak
ada sikap lain yang bisa kita tunjukkan kecuali sikap
syukur kita, yang kemudian dibalas berlipat kali oleh
Allah dengan Syukur dari-Nya. Karena Dia memang
adalah Asy Syakuur, Sang Maha Bersyukur.
Sehingga akhirnya yang tersisa pada diri kita
hanyalah rasa IMAN yang bertambah dan
bertambah kepadanya. Karena setiap rasa iman kita
kepada-Nya akan dibalasnya dengan Imandari-Nya.
Sebab Dia memang adalah Sang Maha Beriman, Al
Mu’min.Jadi proses laa ilaha illah itu ternyata
puncaknya adalah rasa IMAN kepada Allah. Dengan
kata lain, iman inilah puncak ilmu spiritual yang
sebenarnya, yang sudah kita lupakan sedemikian
lamanya. Ya…, rasa Iman kepada Allah lah ILMU
YANG TERTINGGI yang bisa kita dapatkan dalam
sebuah proses beragama. Sedangkan hal-hal yang
lainnya hanyalah merupakan aktifitas yang
menandakan bahwa kita ini hanyalah abdi Allah,
hamba Allah, kurir Allah, khalifah Allah yang
diturunkan-Nya kemuka bumi ini untuk berkarya
dan berperadaban.from: Deka, milis zikrullah,

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s